Rabu, 19 Maret 2014

ADA CERITA DI NUSANTARA



oleh Iswan Sual



Terlalu banyak disuguhi materi membuat kepala kami pusing. Sejak jam delapan pagi hingga jam lima sore pembicara tak henti-hentinya menjejali kami dengan materi bagaimana cara menfasilitasi masyarakat di desa-desa terpencil. Maklum, setelah ini kami akan turun ke lapangan yang punya budaya dan cara hidup yang sama sekali berbeda dengan kami. Barangkali itulah yang kami secara kompak jadikan alasan untuk keluar dan meninggalkan kamar hotel mewah kami malam ini. Padahal di rumah kami masing-masing kemudahan itu taklah tersedia. Begitulah manusia, meski sudah hidup dalam keserbaadaan, masih juga menuntut yang lebih! Manusia memang tak pernah puas.
 Setelah mandi kami bertemu di lobi hotel. Taksi berwarna hitam sudah menanti lama kami berempat. Tujuan kami adalah Mall Panakukang. Salah satu mall termegah di kota terbesar Indonesia timur. Sepanjang perjalanan kami bercandaria dengan logat Manado. Dahi sang sopir sedikit berkerut karena berusaha memahami kata demi kata dari tiga lelaki bermulut besar. Walau dibekali banyak kosakata yang didapatnya dari lagu-lagu pop Manado, masih terlalu sulit bagi dia untuk memahami perbincangan ketiga temanku yang cepat dan bersusun-susun. Aku hanya diam. Menikmati kerlap-kerlip lampu. Juga jalanan yang macet dan bercabang-cabang. Dalam hati muncul rasa kagum terhadap kota yang kian hari kian sibuk. Pasti sangat jauh berbeda ketika Om Sam masih menjadi gubernur se-Sulawesi dulu. Dulu namanya Ujungpandang. Kemudian berubah menjadi Makassar.
Tepat di bawah jalan layang kami diturunkan. Masih butuh banyak langkah untuk bisa tiba di dalam mall. Ada sedikit gerutu tergambar di raut wajah kami tapi langsung lenyap begitu melihat span-span[1] yang lalu lalang. Kami pun saling melirik nakal. Semakin ke dalam semakin berlimpah gadis-gadis muncul di depan wajah.
“Wei! Tunggu! Mo kamana ngoni!” teriakku. Sedikit pun tak ada rasa enggan dengan kalancanganku. Dalam hati kupegang sebuah perkataan, pembeli adalah raja. Jadi biarpun kami bertingkah sedikit kurangajar, tetap saja kami akan dihormati sebagai pembeli. Sebab kami ada sumber rupiah pengusaha-pengusaha yang bercokol di gedung yang disebut sebagai pasar modern itu.
“Sini! Laju! Pe plang ngana bajalang e.”
“Kita memang sangaja babrenti. Sini kwa…,” bujukku. Gerakan ibu jari diikuti pandangan mata ketiga lelaki yang kesemuanya menggunakan celana pendek. “Ada artis. Torang pangge bafoto. Manjo! Pegang ni hape. Tindis di tenga e. Nanti baku ganti.”
Gelagat kami yang memalukan mengundang perhatian orang di sekitar. Tertawa karena kelucuan kami sendiri membahana dan mempengaruhi pengunjung lain. Dari peristiwa inilah aku tahu ternyata Drisan adalah orang yang begitu egois. Foto yang dihasilkan kamera ponselku yang begitu buruk tidak dipedulikannya. Gara-gara ingin buru-buru difoto juga. Tapi itu tak aku persoalkan lebih jauh. Biarlah urusan di mall itu sampai di situ saja. Lagipula, kami datang ke mall dengan tujuan lain. Bukan untuk foto-foto dengan artis wanita yang mengenakan pakaian yang aduhai. Kaos di atas pusar dipasangkan dengan celana pendek sejengkal di atas lutut. Sampai-sampai burungku sempat bangun karena kegenitan busananya.
Setelah tiba di lantai dua kami secara serentak berhenti di toko buku. Aku paling tidak tahan bila sudah bertemu dengan buku. Nyaris semua buku yang nampak hebat kusentuh dan kucium baunya. Langkah perlahan dari lemari ke lemari diikuti ketiga temanku. Tapi lama kelamaan mereka tak tahan dan berlalu. Berkali-kali aku memandangi dompetku. Membandingkan dengan total harga tiga buku yang telah kupilih. Karena isi dompetku sudah terlalu tipis keputusan membeliku jatuh pada Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama. Memang sudah lama aku impikan membeli kamus itu. Kata orang, kalau mau jadi sastrawan kamus itu wajib dibeli. Dua buku lain kutinggalkan di lemari dengan sedikit tak rela. Padahal kedua buku itu sudah begitu akrab denganku hampir sedari setengah jam lampau.
 “Bli apa ngana?” tanya Drisan sinis saat aku sudah berada di depan toko.
“Cuma ini.”
“Ih kyapa le ngana bli kamus. For apa le? Ngana mo lanjut S2? Pantas ngana so bota bagitu. Talalu banya basusa-susa babaca. Lebe bae ngana jadi dosen bukang jadi fasilitator di program torang!” semua pertanyaannya kujawab dengan gelengan kepala. Pernyataannya terasa pahit untuk ditelan tapi tetap juga kutelan demi menghindari pertengkaran. Kami kembali ke mobil dengan sedikit kata-kata. Kegaduhan beranjak jauh entah kemana. Sesekali kutangkap di cermin sopir yang bingung. Mungkin dia berharap akan mendengar kami bercakap lalu dapat kursus gratis bahasa Manado lagi. Dia mungkin bahkan sudah mempersiapkan beberapa kalimat bahasa Manado untuk sekedar berbasa-basi dengan kami.
“Apakah kita langsung pulang atau mau melihat-lihat dulu, bang?” kata sopir memecah kesunyian.
“Ada tampa yang bagus for mo dapa cewe?” kata Drisan blak-blakan, “antar kwa bang. Mo cari hiburan dulu. Hiburan yang butul-butul hiburan. Bukan sama deng tadi. Bukang ilang stres. Cuma tatamba tre.”
Aku tahu dia sedang menyindirku. Tapi biarlah. Dalam banyak hal kompromi itu perlu. Demi kedamaian.
“Kalau mau ada di jalan Nusantara bang.”
“Antar kasana jo dang bang.”
“Ah gila ngana! Nda usa bang!” tampik Ando. Reaksinya tampak begitu keras. Hingga membuat aku dan Lexy terhenyak.
“Ah ngana. Nda usa kwa talalu setia! Torang ini laki-laki. So itu depe kalebean. Kalu di ruma torang ada bini. Mar, kalu so jao bagini brarti torang masi bujangan. Torang lei kwa cuma mo balia. Nyanda mo main,” urai Drisan berkelit.
Begitu mobil berhenti, walau dengan sedikit ragu-ragu, aku turun mengikuti Drisan sang playboy. Ando dan Lexy kuajak juga. Dengan tingkah yang dibuat-buat seperti orang yang sudah pengalaman kami pun masuk ke dalam gedung yang dari luar nampak lengang. Begitu kami diterkam mulut pub mataku terbelalak. Dalam ruang remang-remang dengan kepungan kepulan asap beberapa gadis menari nakal di atas panggung. Para lelaki bersorak. Sejurus kemudian beberapa pria berbadan kekar menyongsong kami. Sontak, aku keluar dari tempat itu. Berpura-pura menerima telpon dari seseorang.
“Jalan bang! Ayo!”
Secepat kilat kami telah berada kembali di dalam taksi. Tiga orang lelaki berjaket hitam tertinggal di belakang mengeluarkan sumpah serapah sambil mengacungkan pisau lipat ke arah kami.
“Amper. Kita kwa so bilang jangang. Bapaksa!” kataku dengan nafas terengah-engah.
“Ah! Ngana talalu panako! Bang, ada nda tampa lebe bagus. So tua-tua no. Ada yang lebe muda dari tadi. So pece dorang no!”
“Di lorong depan ada yang masih SMP,” jawab sopir dengan tenang.
Kegembiraan tergambar di wajah Drisan. Sedang aku mulai dilanda kegugupan. Ando masih menggerutu dan marah. Drisan trus mengeluarkan kalimat-kalimat yang intinya mencelah kami karena tidak bersikap jantan.
Tiba-tiba mobil menepi. Kubalikkan badan menghadap ke depan. Drisan yang duduk di belakangku langsung menurunkan kaca mobil. Tampak sekitar lima orang gadis berkeliaran. Dua di antaranya sedang bercakap-cakap serius dengan dua orang pria yang masih di atas sepeda motor. Seorang gadis lain yang bertubuh sintal dan berkulit terang dengan mata tajam mengundang datang mendekat. Diketuk-ketuknya kaca mobil. Tetap saja kubiarkan tertutup rapat. Berkali-kali gadis itu berusaha menawarkan transaksi tapi aku hanya membalas dengan senyum sebagai tanda penolakan halus. Sementara Drisan terus saja tawar menawar dengan dua gadis yang cantiknya masih alami. Umur mereka sekitar lima belas tahun. Beberapa kali mereka tersandung dalam percakapan. Hanya karena kurang memahami bahasa Manado. Tiba-tiba dan tak disangkah-sangkah dua mobil polisi berhenti di depan taksi yang kami tumpangi. Semua gadis berhamburan hendak melarikan diri. Tapi semua ditangkap termasuk kami berempat dan si sopir. Saat diinterogasi kami mengakui kesalahan kami. Hanya saja Drisan terkurung satu hari lebih lama di sel karena interogasi tak tuntas. Polisi tak mengerti saat dia bicara. Drisan kesulitan berbahasa Indonesia. Keesokan harinya kami menjenguk dia.
“San, mungkin ngana lei so musti bli kamus seblum pulang ke Menado. Supaya kalu torang bale ulang kamari, nda mo jadi bagini,” anjurku. Perut nyaris meledak menahan gelak. Dua temanku yang lain berjalan menjauh sambil terkikik-kikik.
Drisan memandangku kesal bercampur malu. Terpaksa kami berdusta kepada panitia tentang keadaan Drisan. Kami katakan bahwa dia sedang sakit agar panitia tidak curiga dan tidak memberikan surat pemutusan hubungan kerja.



[1] Span-span (Manado) berarti ketat. Namun kata ini telah mengalami perluasan makna. Kata ini juga berarti gadis atau wanita muda. Istilah ini lahir ketika para gadis dan wanita muda sedang suka berbusana ketat.

MIMPI YANG MENGGANTUNG DI LANGIT



 oleh Iswan Sual



Masih kuingat saatku masih kecil dulu. Waktu itu Sinonsayang dan Lolombulan masih hijau dan rimbun. Jalanan masih berlubang-lubang dan penuh becek bila musim hujan. Yang kutahu dunia hanya selebar perkebunan Suka hingga perkebunan Mesel[1]. Kemana ayahku pergi, aku ikut membuntutinya. Bila dia punya parang, saya juga punya. Walau ukurannya berbeda. Rerumputan masih lebih tinggi dari badanku.
Saya senang sekali bersama ayah. Saya menirukan gerakan-gerakannya saat menebas rerumputan di bawah pohon cengkeh dan kelapa. Saya juga gembira bila ayah bersiul sambil memikul kayu bakar di saat kami pulang ke rumah dari kebun. Saya ingin selalu bersama ayah. Sampai-sampai aku menangis bila tak bisa melihat ayah saat aku pulang dari sekolah. Lucu! Saya lebih senang bersama ayah di kebun ketimbang di rumah bersama ibu dan adik kecilku.
Tiba-tiba, segalanya berubah tatkalah aku mulai sekolah. Rasa kagum saya pada ayah  berpindah kepada guru-guru saya. Bahkan sampai mengidolakan mereka. Aku diajarkan tentang perilaku baik: kejujuran, keberanian, tenggang rasa, kerja keras dan keadilan. Juga diajarkan berhitung, berbahasa Indonesia, alam sekitar dan lingkungan sosial. Kehidupan sekolah menjadi lebih menarik bagiku. Para guru-guru menaburi hariku dengan mimpi-mimpi indah. Aku jatuh hati pada semua itu. Dulu karena ayah, aku ingin jadi petani. Kini karena guru-guru aku ingin menjadi seorang guru.
Seiring waktu dan pindah dari satu kelas ke kelas yang lain, tiap hari cita-citaku pun berubah. Itu karena tiap hari aku belajar hal baru. Hingga suatu waktu aku memutuskan bahwa cita-citaku adalah menjadi seorang kepala desa. Pikirku, menjadi kepala desa adalah pekerjaan mulia. Bisa langsung membantu masyarakat merencanakan, melaksanakan dan melestarikan pembangunan. Aku memutuskan waktu itu; setinggi apapun pendidikanku, aku akan pulang ke desa dan mencalonkan diri sebagai kepala desa. Lagipula pikirku, menjadi kepala desa itu mudah. Cukup siapkan diri dengan bekal ilmu dan kehendak untuk bertanggungjawab. Tak perlu membayar dan bermain curang-curangan. Aku yakin bahwa desaku belum tercemar dengan perilaku intrik kotor dan tidak benar. Tak berkampanye bohong seperti anggota-anggota DPR dan pejabat-pejabat.
Tekad yang bulat turut membantu saya di setiap tingkatan sekolah. Sehingga tak pelak saya selalu juara kelas hingga di bangku kuliah. Setelah lulus sarjana saya pun pulang untuk memenuhi panggilan sosial. Bertepatan waktu itu sedang dibukanya pendaftaran untuk menjadi Hukum Tua. Begitu orang tahu saya pulang, mereka menyambut dengan sukaria. Mereka pun berbondaong-bondong memberi dorongan. Tak tergambarkan rasa senang saya. Aku siap turut serta dalam pencalonan. Berkas-berkas saya penuhi. Semuanya tak ada yang terkecuali. Sesudah dua kali 14 hari saya dan beberapa warga lainnya ditetapkan sebagai calon Hukum Tua. Tapi harapanku mendadak pupus dan hilang pada hari penetapan itu. Ternyata desaku sudah berubah. Sudah tak seperti dulu lagi. Tak sama dengan ketika ku masih bocah dulu. Tak ada istilah miskin atau kaya. Cuma mampu, mau dan sedia. Waktu itu ukuran menjadi pemimpin adalah ketulusan dan tekad membangun desa dengan sekuat tenaga dan segenap jiwa. Tapi ternyata kini orang seperti ku tak boleh lagi menjadi kepala desa. Ada satu syarat yang tak bisa saya penuhi. Saya tak bisa memenuhi ketentuan membayar Rp. 3.000.000 yang ditentukan sepihak oleh panitia. Mereka berdalih bahwa jika saya tak mampu membayar berarti saya tak mau berkorban. Padahal itu sama saja dengan sogok. Orang-orang sekampung telah mereka hasut. Mereka bahkan menyebar fitna bahwa bila saya jadi kepala desa, maka saya akan membebani masyarakat dengan pungutan. Dengan kepala tertunduk aku pulang karena malu. Aku memaki diriku yang miskin. Aku memaki keadaanku dan nasibku. Aku pun sadar bahwa desa saya tidak membutuhkan orang yang berilmu tinggi dan bermodal kejujuran serta ketulusan  melainkan orang yang berduit lebih. Cita-citaku tinggalah cita-cita. Mimpi dan impian tinggal jauh di langit.
Kini, aku sudah berusia lanjut. Anakku berjumlah lima. Semua kularang sekolah. Semua kucegah mengejar mimpi.
“Ayah, kenapa kami tidak boleh sekolah?” tanya anakku yang ketiga.
“Kamu tak perlu sekolah. Desa kita tak butuh orang sekolah. Lebih baik kau jadi pencuri. Kumpulkan uang yang banyak agar kau bisa jadi kepala desa. Supaya kau bisa memimpin desa kita menjadi lebih baik.”
“Bukankah mencuri itu tidak baik, ayah? Begitulah kata guru sekolah mingguku,” jawabnya.
“Kalau begitu, mulai hari ini kau tak usah lagi ke sekolah minggu nak. Gurumu berbohong. Jangan kau tertipu. Jangan kau ulangi kegagalan ayah!” Aku memalingkan wajah dan membelakangi anakku. Tatapanku bertengger di puncak Sinonsayang. Dahi anakku berkerut marah. Dia tak tahu kalau pipiku basah oleh tumpahan air mata.

Tondei, 3 April 2013




[1] Beton. Diduga area itu ditandai oleh Orang Belanda bahwa di tempat itu memiliki kandungan emas yang baik. Tapi kepada masyarakat bahwa mesel adalah penanda ketinggian gunung