Kamis, 15 Mei 2014

SALOMO SANG WOLAI




[Sebuah cerita pendek]

oleh Iswan Sual
 

Tadi, sewaktu masih di sekolah, seorang murid melangkah masuk ke dalam kelas yang murid-muridnya sedang Kris ajar. Tubuh murid itu tergolong ukuran di atas rata-rata anak-anak yang seumur dengannya. Tingginya juga seperti gadis dewasa yang sedang menuntut ilmu di universitas. Kulitnya sedikit gelap, namun bersih dan mulus. Perangainya lembut dan sikapnya santun. Barangkali pesona itu yang memberi Kris motivasi sehingga dia masih senang dan kerasan datang mengajar di sekolah itu. Padahal, karena melihat gelagat para rekan gurunya yang kurang disiplin dan pemimpinnya yang bersikap acuh tak acuh dengan manajemennya, Kris sudah muak berada di sekolah itu. Pikirnya, “Aku takkan pernah merubah sesuatu disana. Malah, aku akan makan hati dan menderita sendiri. Sedangkan mereka tak menyadari atau mungkin tak perduli sama sekali.”
“ Pak, bole nda, mo bakotba di ibada OSIS sbantar jam tiga?” si gadis jelita buka suara.
Begitu mendengar kalimat tanya itu Kris tersenyum. Gadis itu tahu arti senyum itu. Selama ini Kris memang selalu menolak diajak hadir dalam ibadah OSIS itu. Alasan yang pertama, dia bukan termasuk guru pembina OSIS. Mungkin orang akan bilang, namanya guru, ya harus hadir. Kris selalu menampik pernyataan itu dengan, “Lantas, kenapa kepala sekolah tidak pernah hadir? Dia kan harus memberi teladan.” Pokoknya berbagai alasan selalu dia buat untuk menghindar. Menghindar dari beban kenakalan para siswa yang makin kurang ajar. Siswa-siswa yang menganggap pertemuan ibadah itu sebagai ajang membangun cinta monyet dan melampiaskan rasa ingin bergosip. Apalagi ibadah itu terkesan hanya sekedar rutinitas yang tidak secara serius diselenggarakan.
“Itu pun kalu bapak bersedia ya. Mar….kalu nyanda bisa, nda apa-apa.” Kris tak ingin melukis kecewa dalam dinding hati gadis itu. Tak ingin dia melukai hati sang motivatornya. Sebab dialah alasan mengapa Kris masih bertahan di sekolah itu.
“Pa sapa pe ruma?” tanya Kris dengan nada yang lembut. Senyum sinisnya dia buang jauh-jauh. Dia berharap gadis bicara lagi. Karena baginya, suara lemah gemula gadis itu melampau merdunya lagu terpopuler sekarang ini. Melebihi suara emas Agnes Monika dan Dirly Sompi. Kenapa begitu? Entahlah. Kris mungkin ada masalah dengan istrinya di rumah. Dengar-dengar cerita tetangga akhir-akhir ini istri Kris banyak tuntutannya. Jadinya mereka sering bertengkar. Bahkan pernah terlontar kata cerai. Hari-hari sesudah itu mereka meralatnya. Istrinya pasrah saja. Sedangkan Kris, terpaksa mempertahankan rumah tangganya karena malu dikatai orang. Sayang pada anak-anak. Tambah lagi harta yang tak banyak mesti dibagi pula bila cerai harus diwujudkan. Belakangan dia memutuskan untuk bertahan, bukan karena sakralnya pernikahan seperti senantiasa dikhotbahkan di gereja. Tapi karena soal untung rugi saja. Secara psikologis yang paling menderita adalah anak-anak.
“Bole to bapak? Bole jo kwa,” desak gadis itu dengan mata berbinar.
“Ok. Jam brapa kote? Jam tiga kang. Ok nanti kita pimpin.”
Pandangan mata Kris mengikuti gadis itu sampai dia menghilang di belakang daun pintu. Mata Kris kini juga turut berbinar. Virus positif telah menjangkitinya. Semangat itu terus mengikutinya hingga di rumah. Langsung dia menikmati makan siangnya. Dilanjutkan dengan membaca Alkitab dan beberapa buku penunjang. Sebagai bahan khotbah, dari Alkitab dia mengambil cerita berjudul “Hikmat Salomo pada Waktu Memberi Keputusan”. Sedangkan dari buku favoritnya, Tontemboansche Teksten, dia memilih sebuah cerita yang berjudul Kukua an doro’ i Tjalowatang wo si Tu’a wo si Wolai.
Dengan jas hujan merah yang telah bolong disana-sini Kris menerobos hujan dengan sepeda motor usangnya. Kakinya cekatan mengayuh pedal sepeda yang umurnya lebih tua sepuluh tahun darinya. Sepeda itu adalah salah satu warisan ayahnya. Dahulu ayahnya menggunakan sepeda itu untuk mengunjungi rumah satu dan lainnya untuk memeriksa orang yang sakit. Ayahnya adalah seorang mantri, tenaga kesehatan jaman Permesta. Ayahnya pernah ditugaskan sebagai tentara tenaga medis. Dia berasal dari negeri seberang. Sebuah pulau bernama Siau. Dalam bahasa Tontemboan, siow, berarti Sembilan. Itulah sebabnya ada cerita yang bilang kalau orang Siau itu adalah keturunan Toar Lumimuut. Raja yang pertamanya adalah cucu deri Apo Lokon atau Tonaas Pinontoan. Dia beribukan Abunia seorang wewene Minahasa. Namanya pun sangat Minahasa, Lokongbanua II. Mengapa ayah Kris sampai berada di kampung kami, ceritanya sangat panjang. Tak cukup waktu untuk menceritakannya.
Beberapa siswa sudah lebih dulu tiba begitu Kris turun dari sepedanya. Mereka heran dengan kedatangannya. Lebih mengherankan lagi dia hanya mengenakan kaos oblong yang dipasangkan dengan celana jins. Sungguh jauh dari kesan sebagai orang yang hendak pergi beribadah. Kris sengaja berpenampilan demikian demi menghilangkan kebekuan. Dia ingin para menerima pengajaran dengan perasaan yang tak dibelenggu. Tapi tentu pakaiannya sopan dan bersih. Kesannya santai.
“Bapak tu mo pimpin tu ibadah?” ketus seorang siswa sebagai cara mengusir keheningan. Kris memang tampak bisu dan sedikit gugup tatkala dia tiba dan berjabat tangan dengan tuan rumah. Dia kelihatan dingin dan kurang memberi perhatian kepada sekeliling. Beberapa murid berusaha mencari perhatiannya tapi tak digubrisnya.
Ibadah dimulai tepat pukul 16.00. Terlambat satu jam dari yang direncanakan. Itu memang sudah biasa. Orang Indonesia sudah terlanjur menerima kebiasaan yang salah itu sebagai sebuah kebenaran. Beberapa orang berusaha merubah. Tapi kebanyakan telah pasrah. Bahkan menganggap itu selaku budaya. Padahal orang Minahasa dulunya peduli dengan waktu.
Persiapan Kris tak sia-sia. Para murid paham dengan ceritanya. Mereka sanggup menangkap maknanya. Apalagi dua cerita dari buku dan bahasa yang berbeda itu menyampaikan pesan yang sama.
“Sapa suka mo jadi sama deng Salomo ato Wolai?” semua tangan teracung. Walaupun ada juga cepat-cepat menurunkan tangan begitu menyadari ada  kata Wolai yang mengikuti kata Salomo. Begitu Kris jelaskan lagi apa maksud dari pertanyaan itu, bukan menjadi Wolai, tapi mengikuti sikap wolai dari cerita yang dia tuturkan, dimana Wolai bertindak adil, berpihak pada yang lemah dan memiliki hikmat untuk mengalahkan kecurangan, semua siswa pun mengangguk dengan mata bercahaya.
Ibadah pun selesai. Kris pulang dengan perasaan senang. Sayangnya, terlihat tuan rumah sedikit kecewa. Sebab hanya Kris satu-satunya guru yang datang. Guru honor pula. Jabat tangan pamitan tak ada. Suasana “ilahi” barangkali kurang ada karena itu. Pikir mereka kehadiran Tuhan senantiasa beriringan dengan kedatangan orang-orang terhormat dan bernama. Mereka tak tahu sang ilahi itu datang dengan wujud sederhana. Dalam rupa seorang guru honor dengan gaji Rp. 425.000 per bulan.