[Sebuah
cerita pendek]
oleh Iswan Sual
Tadi, sewaktu masih di sekolah, seorang murid melangkah masuk
ke dalam kelas yang murid-muridnya sedang Kris ajar. Tubuh murid itu tergolong
ukuran di atas rata-rata anak-anak yang seumur dengannya. Tingginya juga seperti
gadis dewasa yang sedang menuntut ilmu di universitas. Kulitnya sedikit gelap,
namun bersih dan mulus. Perangainya lembut dan sikapnya santun. Barangkali pesona
itu yang memberi Kris motivasi sehingga dia masih senang dan kerasan datang
mengajar di sekolah itu. Padahal, karena melihat gelagat para rekan gurunya
yang kurang disiplin dan pemimpinnya yang bersikap acuh tak acuh dengan
manajemennya, Kris sudah muak berada di sekolah itu. Pikirnya, “Aku takkan
pernah merubah sesuatu disana. Malah, aku akan makan hati dan menderita
sendiri. Sedangkan mereka tak menyadari atau mungkin tak perduli sama sekali.”
“ Pak, bole nda, mo bakotba di ibada OSIS sbantar jam tiga?”
si gadis jelita buka suara.
Begitu mendengar kalimat tanya itu Kris tersenyum. Gadis itu
tahu arti senyum itu. Selama ini Kris memang selalu menolak diajak hadir dalam
ibadah OSIS itu. Alasan yang pertama, dia bukan termasuk guru pembina OSIS.
Mungkin orang akan bilang, namanya guru, ya harus hadir. Kris selalu menampik
pernyataan itu dengan, “Lantas, kenapa kepala sekolah tidak pernah hadir? Dia
kan harus memberi teladan.” Pokoknya berbagai alasan selalu dia buat untuk
menghindar. Menghindar dari beban kenakalan para siswa yang makin kurang ajar. Siswa-siswa
yang menganggap pertemuan ibadah itu sebagai ajang membangun cinta monyet dan
melampiaskan rasa ingin bergosip. Apalagi ibadah itu terkesan hanya sekedar
rutinitas yang tidak secara serius diselenggarakan.
“Itu pun kalu bapak bersedia ya. Mar….kalu nyanda bisa, nda
apa-apa.” Kris tak ingin melukis kecewa dalam dinding hati gadis itu. Tak ingin
dia melukai hati sang motivatornya. Sebab dialah alasan mengapa Kris masih
bertahan di sekolah itu.
“Pa sapa pe ruma?” tanya Kris dengan nada yang lembut. Senyum
sinisnya dia buang jauh-jauh. Dia berharap gadis bicara lagi. Karena baginya,
suara lemah gemula gadis itu melampau merdunya lagu terpopuler sekarang ini.
Melebihi suara emas Agnes Monika dan Dirly Sompi. Kenapa begitu? Entahlah. Kris
mungkin ada masalah dengan istrinya di rumah. Dengar-dengar cerita tetangga
akhir-akhir ini istri Kris banyak tuntutannya. Jadinya mereka sering
bertengkar. Bahkan pernah terlontar kata cerai. Hari-hari sesudah itu mereka
meralatnya. Istrinya pasrah saja. Sedangkan Kris, terpaksa mempertahankan rumah
tangganya karena malu dikatai orang. Sayang pada anak-anak. Tambah lagi harta
yang tak banyak mesti dibagi pula bila cerai harus diwujudkan. Belakangan dia
memutuskan untuk bertahan, bukan karena sakralnya pernikahan seperti senantiasa
dikhotbahkan di gereja. Tapi karena soal untung rugi saja. Secara psikologis
yang paling menderita adalah anak-anak.
“Bole to bapak? Bole jo kwa,” desak gadis itu dengan mata
berbinar.
“Ok. Jam brapa kote? Jam tiga kang. Ok nanti kita pimpin.”
Pandangan mata Kris mengikuti gadis itu sampai dia menghilang
di belakang daun pintu. Mata Kris kini juga turut berbinar. Virus positif telah
menjangkitinya. Semangat itu terus mengikutinya hingga di rumah. Langsung dia
menikmati makan siangnya. Dilanjutkan dengan membaca Alkitab dan beberapa buku
penunjang. Sebagai bahan khotbah, dari Alkitab dia mengambil cerita berjudul “Hikmat
Salomo pada Waktu Memberi Keputusan”. Sedangkan dari buku favoritnya,
Tontemboansche Teksten, dia memilih sebuah cerita yang berjudul Kukua
an doro’ i Tjalowatang wo si Tu’a wo si Wolai.
Dengan jas hujan merah yang telah bolong disana-sini Kris
menerobos hujan dengan sepeda motor usangnya. Kakinya cekatan mengayuh pedal
sepeda yang umurnya lebih tua sepuluh tahun darinya. Sepeda itu adalah salah
satu warisan ayahnya. Dahulu ayahnya menggunakan sepeda itu untuk mengunjungi
rumah satu dan lainnya untuk memeriksa orang yang sakit. Ayahnya adalah seorang
mantri, tenaga kesehatan jaman Permesta. Ayahnya pernah ditugaskan sebagai
tentara tenaga medis. Dia berasal dari negeri seberang. Sebuah pulau bernama
Siau. Dalam bahasa Tontemboan, siow, berarti Sembilan. Itulah sebabnya ada
cerita yang bilang kalau orang Siau itu adalah keturunan Toar Lumimuut. Raja
yang pertamanya adalah cucu deri Apo Lokon atau Tonaas Pinontoan. Dia beribukan
Abunia seorang wewene Minahasa. Namanya pun sangat Minahasa, Lokongbanua II. Mengapa
ayah Kris sampai berada di kampung kami, ceritanya sangat panjang. Tak cukup
waktu untuk menceritakannya.
Beberapa siswa sudah lebih dulu tiba begitu Kris turun dari
sepedanya. Mereka heran dengan kedatangannya. Lebih mengherankan lagi dia hanya
mengenakan kaos oblong yang dipasangkan dengan celana jins. Sungguh jauh dari
kesan sebagai orang yang hendak pergi beribadah. Kris sengaja berpenampilan
demikian demi menghilangkan kebekuan. Dia ingin para menerima pengajaran dengan
perasaan yang tak dibelenggu. Tapi tentu pakaiannya sopan dan bersih. Kesannya
santai.
“Bapak tu mo pimpin tu ibadah?” ketus seorang siswa sebagai
cara mengusir keheningan. Kris memang tampak bisu dan sedikit gugup tatkala dia
tiba dan berjabat tangan dengan tuan rumah. Dia kelihatan dingin dan kurang
memberi perhatian kepada sekeliling. Beberapa murid berusaha mencari
perhatiannya tapi tak digubrisnya.
Ibadah dimulai tepat pukul 16.00. Terlambat satu jam dari
yang direncanakan. Itu memang sudah biasa. Orang Indonesia sudah terlanjur
menerima kebiasaan yang salah itu sebagai sebuah kebenaran. Beberapa orang
berusaha merubah. Tapi kebanyakan telah pasrah. Bahkan menganggap itu selaku
budaya. Padahal orang Minahasa dulunya peduli dengan waktu.
Persiapan Kris tak sia-sia. Para murid paham dengan
ceritanya. Mereka sanggup menangkap maknanya. Apalagi dua cerita dari buku dan
bahasa yang berbeda itu menyampaikan pesan yang sama.
“Sapa suka mo jadi sama deng Salomo ato Wolai?” semua tangan
teracung. Walaupun ada juga cepat-cepat menurunkan tangan begitu menyadari
ada kata Wolai yang mengikuti kata Salomo.
Begitu Kris jelaskan lagi apa maksud dari pertanyaan itu, bukan menjadi
Wolai, tapi mengikuti sikap wolai dari cerita yang dia tuturkan, dimana Wolai
bertindak adil, berpihak pada yang lemah dan memiliki hikmat untuk mengalahkan
kecurangan, semua siswa pun mengangguk dengan mata bercahaya.
Ibadah pun selesai. Kris pulang dengan perasaan senang. Sayangnya,
terlihat tuan rumah sedikit kecewa. Sebab hanya Kris satu-satunya guru yang
datang. Guru honor pula. Jabat tangan pamitan tak ada. Suasana “ilahi”
barangkali kurang ada karena itu. Pikir mereka kehadiran Tuhan senantiasa
beriringan dengan kedatangan orang-orang terhormat dan bernama. Mereka tak tahu
sang ilahi itu datang dengan wujud sederhana. Dalam rupa seorang guru honor
dengan gaji Rp. 425.000 per bulan.
Kalau tidak ada pembesar maka sebuah acara terasa hambar. Entah acara ibadah ataupun bukan ibadah. Gimana bro Iswan?
BalasHapus